Materi Pemasaran
Dini Setyawati | 150401020027
Fakultas Ekonomika dan Bisnis
Progam Studi Pendidikan Ekonomi
BAB
1
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Strategi utama dalam
pemasaran global berkenaan dengan proses segmentasi, penepan pasar sasaran, dan
positioning produk sedemikian rupa, sehingga produk peusahaan dipersepsikan
unik dan unggul dibandingkan produk para pesaing. Selain itu, penentuan merek global
juga merupakan keputusan kritis yang dalam banyak kasus pada kesuksesan
perusahan global dalam jangka panjang. Dalam konteks pemasaran global,
segmentasi pasar merupakan upaya mengidentifikasi dan mengkategorisasi kelompok
pelanggan dan negara berdasarkan berbagai karakteristik yang berpengaruh pada
reaksi kelompok bersangkutan terhadap stimulus pemasaran. Targeting adalah
proses pengevaluasi segmen pasar dan memusatkan upaya pemasaran pada negara,
kawasan atau kelompok orang yang memiliki potensi signifikan untuk bereaksi
secara positif terhadap stimulus pemasaran dari perusahaan. Proses targeting
mencerminkan kenyataan bahwa perusahan harus mengidentifikasi pelanggan yang
dapat diakses dan dilayani secara efektif dan efisien. Dalam bab ini, pembahasan
akan dipusatkan pada aspek STP (Segmentation, Targeting,Positioning) dan
branding dalam konteks pemasaran global.
1.2
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana Persaingan Antara Pasar
Multidomestik dengan Pasar Global?
2.
Bagaimana Gambaran Umuum Pasar Global?
3.
Apa yang Dimaksud dengan Segmentasi
Pasar?
4.
Apa yang Dimaksud dengan Global
Targeting?
5.
Apa yang Dimaskud dengan Global
Positioning?
6.
Apa yang Dimaksud dengan Global
Branding?
7.
Bagaimana Persaingan Antara Local Brands
dengan Blobal Brands?
1.3
Tujun Pembahasan
1. Untuk Mengetahui Persaingan Antara
Pasar Multidomestik dengan Pasar Global.
2. Untuk Mengetahui Gambaran Umuum Pasar
Global.
3. Untuk Mengetahui Pengertian
Segmentasi Pasar.
4. Untuk Mengetahui Pengertian Global
Targeting.
5. Untuk Mengetahui Pengertian Global
Positioning.
6. Untuk Mengetahui Pengertian Global
Branding.
7. Untuk Mengetahui Persaingan Antara
Local Brands dengan Blobal Brands.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
PASAR MULTIDOMESTIK VERSUS PASAR GLOBAL
Konsumen di negara yang
berbeda cenderung berpikir, berbicara, dan produk penting sikap, dan norma
sosial juga bervariasi antar negara. Seberapa penting persepsi terhadap
kualitas, sikap terhadap produk buatan luar negeri, dan sejauh mana konsumen
cenderung mematuhi norma-norma sosial, berpengaruh besar terhadap perbedaan
proses pembelian yang di lakukan oleh konsumen diberbagai negara. Contonya,
konsumen australia mulai cenderung menyukai produk buatan dalam negeri yang
dilabeli “Australian-made”, “Australian-owned”, dan sejenisnya. Sementara itu,
konsumen di banyak negara berkembang cenderung lebi menyukai produk-produk
buatan luar negeri, terutama dari Amerika, Jepang, Inggiris, Jerman, dan negara
maju lainnya. Selain itu, preferensi dalam hal warna, rasa, bentuk, ukuran, dan
sejenisnya juga berbeda-beda antar budaya. Perbedaan dalam hal tradisi, budaya,
dan fashion ini melandasi konsep pasar multidomestik (multidomestic
markets). Konsep yang pertama kali dikemukakan oleh Hout, Porter dan Rudden
(1982) ini dapat didefinisikan sebagai “pasar-pasar produk yang memilki
perbedaan signifikan dalam hal pereferensi dan tuntutan fungsional konsumen
lokal”. Kategori produk yang umumnya termasuk dalam tipe pasar multidomestik
meliputi makanan, minuman, pakaian, dan hiburan. Dalam ketegori seperti ini,
banyak konsumen yang lebih menyukai variasi produk local (domestik). Pasar
multidomestik mencerminkan variasi faktor budaya, religius, sosial, sumber daya
alam, dan iklim. Implikasinya, perusahaan yang ingin memasarkan produknya di
pasar multidomestik harus mampu mengadaptasi produk dan jasanya sesuai dengan
tuntutan kebutuhan dan preferensi lokal di masing-masing negara yang dimasuki.
Adaptasi yang dilakukan bisa berupa perubahan kandungan gula dan garam (produk makanan),
corak warna dan bentuk kemasan (makanan dan minuman), ukuran (pakaian), dan
seterusnya.Sementara itu, pasar global juga berkembang pada saat bersamaan.
Banyak pasar produk yang tidak bersifat multidomestik, terutama pada kategori
produk yang memilki kandungan teknologi tinggi, misalnya mobil, televisi,
komputer personal, dan telepon genggam. Preferensi konsumen pada kategori
produk semacam itu tidak di bentuk oleh tradisi, iklim, maupun nilai kultural
dasar, namun lebih banyak dipengaruhi oleh faktor kebutuhan dan keinginan
individual. Implikasinya, segmentasi berdasarkan negara lebih cocok untuk pasar
multidomestik, sementara untuk pasar global hal itu cenderung tidak terlalu
relevan.Pasar global (global markets) bisa didefinisikan sebagai “pasar
yang memiliki kesamaan preferensi konsumen di antara berbagai negara”. Di dalam
negara yang sama,bisa jadi terdapat berbagai macam segmen konsumen yang
memiliki preferensi berbeda-beda, namun batas-batas antar negara bukanlah
pemisah segmen yang signifikan.
2.2
GAMBARAN UMUM PASAR GLOBAL
Sejak Perang Dunia 2
berakhir, semakin banyak negara yang berminat untuk menjalin kerja sama
ekonomi. Keinginan ini sebenarnya dipicu oleh suksesnya pembentukan Masyarakat
Eropa (European Comunity) yang diilhami oleh perekonomian Amerika. Ada
banyak tingkatan kerja sama ekonomi, mulai dari kesepakatan antara dua atau
lebih negara untuk mengurangi hambatan dagang di antara mereka, sampai
integrasi ekonomi sepenuhnya di antara perekonomian dua atau lebih negara.
Contoh terkenal dari kesepakatan preferensial dalam abad 20 adalah sistem
preferensi British Commonwealth yang melibatkan Inggris, Kanada,
Australia, Selandia Baru, India dan beberapa bekas kolonia Inggris di Afrika,
Asia, dan Timur Tengah. Keputusan Inggris untuk bergabung dengan Masyarakat
Ekonomi Eropa mengakibatkan pudarnya sistem tersebut dan menggambarkan dinamika
kerja sama ekonomi internasional. Secara garis besar, terdapat empat tingkatan
kerja sama dan integrasi ekonomi.
a)
Free Trade Area. Kawasan
perdagangan bebas (free trade area) merupakan sekelompok negara yang
sepakat untuk menghapus semua hambatan dagang internal di antara anggotanya.
b)
Custom union. Bentuk
integrasi ini merupakan evolusi logis dari kawasan perdagangan bebas. Selain
menghapus hambatan dagang internal, para anggota customs union sepakat untuk
menegakkan hambatan dagang eksternal.
c)
Cammon market. Dalam
common market, hambatan atas aliran faktor produksi (tenaga kerja dan modal) di
antara negara anggota dihapuskan.
d)
Economic union. Evolusi
penuh dari economic union meliputi penciptaan satu bank sentral tunggal,
penggunaan mata uang tunggal, dan kebijakan bersama dalam pertanian, pelayanan
sosial dan kesejahteraan, perkembangan regional, transportasi, pajak,
persaingan, merger, konstruksi dan bangunan, dan seterusnya.
Dalam konteks global,
terdapat organisasi WTO (World Trade Organization) yang berdiri sejak
tanggal 1 januari 1995, menggantikan GATT (General Agreement on Tariffs and
Trade). Dengan kantor pusatnya di Jenewa, WTO bertujuan memfasilitasi
perdagangan bebas global dalam sektor barang dan jasa, serta berperan sebagai
mediator netral dalam menyelesaikan berbagai sengketa dagang global
2.3
SEGMENTASI GLOBAL
Segmentasi
pasar adalah proses memlih suatu pasar ke dalam berbagai kelompok pelanggan
yang berperilaku sama atau memiliki kebutuhan serupa. Setiap kelompok bisa
dipilih sebagai pasar sasaran untuk dilayani dengan strategi pemasaran
tersendiri. Proses ini bermula dari penentuan basis segmentasi, yaitu faktor
produk spesifik yang merefleksikan perbedaan-perbedaan dalam tuntutan pelanggan
atau daya tanggap terhadap variabel pemasaran (di antaranya perilaku pembelian,
penggunaan,manfaat yang dicari, minat, preferensi, atau loyalitas).Segmentasi
pasar global merupakan proses membagi pasar dunia ke dalamberbagai kelompok
pelanggan yang berperilaku sama atau memiliki kebutuhan serupa.Bila pula
segmentasi pasar global diartikan sebagai proses mengidentifikasi segmensegmen
spesifik (baik kelompok negara maupun kelompok konsumen individual) yang
terdiri atas pelanggan potensial dengan atribut-atribut homogen yang mungkin
menunjukkan perilaku pembelian serupa.Menurut Theodore Levitt (1983) dalam
artikelnya berjudul “ The Globalization of Markets”, dengan dilandasi keinginan
untuk mencari variasi, konsumen di berbagai negara bisa memiliki kebutuhan dan
preferensi yang sama. Akibatnya, terbentuklah apa yang disebut multiple
national markets. Oleh sebab itu, makanan etnis atau regional seperti
sushi, pizza, atau hamburger bisa dibutuhkan di mana-mana. Levittmenyebut tren ini
sebagai “pluralization of consumption” dan “segment simultaneity”
yang memberikan peluang bagi para pemasar untuk menargetkan segmen dalam skala
global.Dewasa ini perusahaan-perusahaan global melakukan segmentasi pasar
duniaberdasarkan salah satu atau beberapa kriteria kunci: geografis, demografis
(termasuk pendapatan nasional dan jumlah populasi), psikografis (nilai, sikap,
dan gaya hidup),karakteristik perilaku, dan manfaat yang dicari (benefits
sought). Pasar nasional juga bisa disegmentasi berdasarkan lingkungannya
(misalnya, ada tidaknya regulasi pemerintah dalam industry tertentu). Cara lain
adalah dengan melakukan segmentasi horizontal berdasarkan kategori pemakai
produk.
1. Segmentasi Geografis
Segmentasi geografis
membagi dunia menjadi kelompok-kelompok geografis, seperti Eropa Barat, Eropa
Timur, Asia Tenggara, Timur Tengah, Amerika Latin, Australia, dan lain
sebagainya. Keunggulan utama segmentasi geografis adalah kedekatannya (proximity),
di mana pasar pada segmen yang sama relatif dekat satu sama lain dan mudah
didatangi pada kunjungan yang sama atau dihubungi dalam zone waktu yang sama.
Namun, segmentasi geografis memiliki keterbatasan pokok, yaitu fakta bahwa
beberapa pasar berada dalam kawasan geografis yang sama tidak lantas berarti
bahwa pasar-pasar tersebut benar-benar sama. Jepang dan Vietnam,
misalnya,sama-sama terletak Asia, namun Jepang berpendapatan tinggi dan
teknologi Negara pasca-industri, sementara Vietnam termasuk negara berkembang
dengan penghasilan rendah. Perbedaan antara kedua negara ini justru melebihi
kesamaan yang ada. Menurut Simon (dikutip dalam Keegan 1999), kawasan geografis
merupakan basis segmentasi yang peringkatnya paling rendah dibandingkan
kriteria lain seperti aplikasi, kelompok pelanggan, produk/teknologi, tingkat
harga, dan kualitas.
2. Segmentasi
Demografis
Segmentasi demografis
didasarkan pada karakteristik terukur dari populasi,seperti usia, jenis
kelamin, penghasilan, pendidikan, dan pekerjaan. Sejumlah trendemografis
(seperti semakin sedikit pasangan yang menikah, semakin sedikit jumlah anak
dalam keluarga, perubahan peran perempuan, dan meningkatnya pendapatan serta standar
hidup) merupakan pendorong munculnya segmen global.Bagi sebagian besar produk
konsumen dan industri, pendapatan nasional merupakan satu-satunya varibel
segmentasi paling penting dan merupakan indicator potensi pasar. Pendapatan per
kapita tahunan sangat bervariasi di pasar dunia, dari serendah US$90 di
Mozambique sampai stinggi US$42,000 di Luxembrug. Pendekatan tradisional
terhadapt segmen berpenghasilan tinggi, sedang, dan rendah. Perusahaan biasanya
menjadikan negara dengan tingkat pendapatan tertinggi sebagai targetnya.Banyak
perusahaan global yang juga menyadari bahwa untuk produk-produk yang harganya
cukup rendah (misalnya, rokok, minuman ringan, pulpen, dan beberapa barang dalam
kemasan lainya), jumlah penduduk merupakan variabel segmentasi yang lebih penting
daripada pendapatan. Oleh sebab itu, RRC dan India dengan penduduk masing-masing
1,2 milyar dan 965 juta merupakan pasar sasaran yang atraktif bagi perusahaan-perusahaan
yang menjual produk konsumen dengan harga jual rendah.Usia merupakan variabel
demografis yang juga tak kalah pentingnya. Salah satu segmen global berbasis
demografis adalah global teenagers, yaitu anak muda berusia antara 12
dan 19 tahun. Segmen global lain yang tak kalah pentingnya adalah global elite,
yakni konsumen yang lebih tua, lebih makmur, banyak berpergian, dan mempunyai
uang untuk membeli produk-produk bergengsi dengan citra eksklusif. Kebutuhan
dan keinginan segmen ini tersebar di antara berbagai kategori produk : barang
tahan lama (mobil lux); barang tidak tahan lama (minuman kelas atas seperti
champagne yang langka); dan jasa financial (kartu gold dan platinum American
express). Perubahan teknologi dalam telekomunikasi memudahkan untuk membidik
segmen elite global.
3.
Segmentasi Psikografis
Segmentasi psikografis adalah proses
pengelompokan orang dalam hal sikap, nilai,
dan gaya hidupnya. Umumnya data diperoleh dari kuesioner yang meminta responden
untuk mengungkapkan sejauh mana mereka setuju dengan sejumlah pernyataan.
4.
Segmentasi Perilaku
Segmentasi perilaku
berfokus pada apakah orang membeli dan menggunakan suatu produk atau tidak, di
samping seberapa sering dan berapa banyak yang dipakainya. Dengan demikian,
konsumen bisa dikelompokkan berdasarkan tingkat pemakaian menjadi:
pemakai kelas berat, pemakai sedang, pemakai ringan, dan bukan pemakai.Konsumen
juga bisa disegmentasikan berdasarkan status pemakai menjadi: pemakai potensial,
bukan pemakai, mantan pemakai, pemakai regular, pemakai pertama kali, dan pemakai
produk pesaing.
5. Segmentasi manfaat
Segmentasi manfaat
global berfokus pada pembilang dari persamaan nilai (value equation): Value
= Benefit/Price. Pendekatan ini dapat memberikan hasil yang memuaskan
melalui pemahaman superior pemasar atas masalah yang dapat diselesaikan
oleh suatu produk atau manfaat yang ditawarkannya, terlepas dari wilayah geografisnya.
Contohnya, Nestle mendapati bahwa sikap para pemilik kucing terhadap pemberian
makan binatang kesayangannya tidak berbeda di mana pun. Sebagai langkah tindak
lanjutnya, dirancang kampanye promosi di seluruh Eropa untuk Friskies, sebuah
merek dry cat food.
6. Segmentasi Vertikal
Versus Horizontal
Segmentasi vertical didasarkan
pada kategori produk atau modalitas dan titik harga. Sebagai contoh, dalam medical
imaging terdapat X-ray, Computed Axial Tomography (CAT) scan,
Magnetic Resonance Imaging (MRI), dan lain-lain. Setiap modalitas
memiliki titik penetapan harganya masing-masing. Titik harga ini merupakan cara
tradisional dalam mensegmentasikan pasar medical imaging.
2.4.
GLOBAL TARGETING
Global targeting
merupakan proses mengevaluasi dan membandingkan segmentasi pasar global, serta
memilih satu atau lebih diantaranya sebagai pasar sasaran yang dinilai
berpotensi paling besar untuk dilayani secara efektif dan efisien. Penetapan
pasar global bisa dilakukan dengan menggunakan dua kriteria utama, yaitu potensi
dan kapabilitas. Potensi menyangkut enam aspek krusial yang terdiri atas:
(1) Ukuran dan potensi
pertumbuhan pasar sesungguhnya
(2)
Kemungkinan akseptansi konsumen
(3)
Struktur persaingan
(4)
Situasi lingkungan politik/hukum, ekonomi, dan sosiokultural
(5)
Akses ke jaringan yang sudah ada
(6)
Ketersediaan mitra local yang kapabel dan bersedia bekerja sama,
sedangkan
kapabilitas berhubungan dengan lima factor:
(1)
Kesiapan memasuki pasar internasional/pengalaman di luar negeri;
(2)
Kelangkaan dan kekritisan kompetensi;
(3)
Sumber daya waktu, manusia, dan kas;
(4)
Attitudinal commitment; dan
(5)
Tujuan (merespon persaingan, aliran kas, pangsa pasar atau volume, dan entri
pasar
(pendahuluan).
Setelah segmen pasar
telah dievaluasi dengan cermat, perusahaan global perlu menetapkan strategi
targeting sesuai dengan kebutuhan. Ada tiga alternatif strategi positioning
yang bisa dipilih, yaitu:
a).
Standardlized Global Marketing. Strategi ini analog dengan pemasaran
massal dalam pemasaran domestic, di mana perusahaan menawarkan bauran pemasaran
yang sama kepada semua pelanggan potensial yang ingin dilayani, maka dibutuhkan
distribusi ekstensif di sebanyak mungkin gerai ritel.
b).
Concentrated Global Marketing. Dalam strategi ini, perusahaan merancang
bauran pemasaran untuk menjangkau segmen tunggal dalam pasar global.
c).
Differentiated Global Marketing. Dalam strategi ini, perusahaan global
menargetkan dua atau lebih segmen pasar yang berbeda dan melayani mereka dengan
bauran pemasaran yang berbeda pula. Strategi ini memungkinkan perusahaan untuk
mencapai market coverage yang lebih luas.
2.5
GLOBAL POSITIONING
Pada prinsipnya,
positioning berusaha menempatkan produk dalam benak pelanggan sasaran
sedemikian rupa, sehingga memperoleh posisi yang unik dan unggul dibandingkan
produk pesaing. Posisi yang unik dan unggul ini didapatkan dari berbagai diferensiasi,
seperti: produk (fitur, kinerja, kualitas, daya tahan, dan seterusnya); layanan
(pengantaran, instalasi, layanan purna jual, dan garansi); personil
(reliabilitas, empati,kapabilitas, dan kompetensi); saluran distribusi (coverage
dan jaringan); dan citra (simbolisme, merek, dan reputasi perusahaan).
Positioning harus
menawarkan manfaat-manfaat tertentu yang diwujudkan dalam proposisi nilai (value
proposition) perusahaan. Proposisi nilai ini terdiri atas 3 manfaatutama:
manfaat fungsional (atribut kinerja), manfaat emosional (citra), dan
manfaatekonomik (harga). Sementara itu, basis positioning bisa 6 macam: atribut
atau manfaat;kualitas/harga; pemakaian atau aplikasi; pemakai; high-tech
positioning; dan high-touch positioning.Sebagai contoh,
proposisi nilai McDonald’s dapat dirumuskan sebagai berikut:
a).
Manfaat fungsional: hamburger, kentang goreng, minuman
ringan, dan makanan lainnya yang bercita rasa; bonus ekstra seperti tempat
bermain, hadiah, dan games;
b).
Manfaat emosional: bagi anak-anak (rasa senang lewat
kebahagiaan pesta ulang tahun, relasi dengan karakter-karakter tertentu, dan
saat-saat istimewa keluarga); bagi orang dewasa (kehangatan dalam acara-acara
dan pengalaman keluarga yang diperkuat dengan iklan);
c).
Manfaat ekonomik: biaya rendah, value for money.Dalam
konteks pemasaran global, muncul masalah berkenaan dengan sejauh mana positioning
nasional bisa diinternasionalisasikan. Hal ini karena merek yang sama bisa saja
memenuhi kebutuhan yang berbeda di pasar negara lain (untuk segmen pasar yang berbeda),
seperti halnya kebutuhan yang sama dapat dipenuhi dengan berbagai macam cara.
Dalam hal ini terdapat empat isu strategic utama:
(1)
Segmen sasaran;
(2)
Proporsi nilai;
(3)
Ruang positioning berdasarkan peta perseptual; dan
(4) Standarisasi versus
adaptasi. Keempat isu ini bisa dijabarkan menjadi beberapa aspek kunci:
1)
Merek dan produk yang sifatnya culture
free versus culture bound. Pada umumnya, barang konsumen tergolong culture
bound, sedangkan barang industrial termasuk culture free.
2) Segmentasi,
menyangkut kluster manfaat dan karakteristik profil yang ada.
3) Prioritas
manfaat yang ditetapkan.
4) Positioning
pesaing dalam benak konsumen.
5) Status
dan stereotyping tentang negara asal (country of origin).
2.6
GLOBAL BRANDING
Seperti halnya
positioning, isu pokok dalam global branding menyangkut standarisasi (menggunakan
satu merek global) versus adaptasi (beberapa merek nasional berbeda). Penggunaan
satu merek global tidak mungkin dilakukan jika:
1) Namanya
sudah digunakan oleh perusahaan lain. Contohnya, di Australia nama Burger King
telah lebih dulu digunakan oleh sebuah restoran siap saji di perth. Akibatnya, sewaktu
Burger King masuk Australia, nama yang dipakai adalah Hungry Jack.
2) Nama
(dan juga logo) yang dipakai bisa memiliki konotasi budaya yang berbeda.Sebagai
contoh, Carlsberg harus menambahkan gambar satu ekor gajah lagi pada label birnya
yang semula bergambar dua ekor gajah untuk keperluan iklan di
Afrika.Penyebabnya adalah kepercayaan setempat yang menganggap dua ekor gajah merupakan
symbol nasib buruk.
3) Ada
tuntutan untuk menerjemahkan nama merek ke dalam bahasa local, misalnya di RRC,
jepang, dan negara-negara lainnya.Secara garis besar, standarisasi merek global
maupun adaptasi merek local memiliki keunggulan dan kelemahannya masing-masing.
Isu lain tak kalah menariknya adalah mengembangkan, mengelola, dan mengukur brand
equity di masing-masing pasar yang dimasuki. Brand equity dapat
didefinisikan sebagai “serangkaian memori dalam bentuk pelanggan, anggota
saluran distribusi,perusahaan induk, dan anggota utama lain dari jejaring
bisnis merek tertentu yang bisa berdampak pada aliran kas dan profitabilitas
masa datang” (Ambler & Styles, 2000, p.123). Memori dalam definisi ini
mencakup “procedural memory” (apa yang telah kita pelajari tentang cara
melakukan sesuatu, kebiasaan, dan perilaku) dan “declarative memory” (apa
yang kita ingat).
2.7
LOCAL BRANS VERSUS GLOBAL BRANDS
Seiring dengan derasnya
arus globalisasi, perusahaan-perusahaan berusaha menciptakan merek-merek global
(global brands) dan secara agresif berupaya mencari pasar-pasar
potensial di seluruh belahan dunia.Terlepas dari debat konseptual mengenai
istilah merek global, satu hal yang pasti adalah dampaknya terhadap merek-merek
local atau domestic. Merek global biasanya didukung dengan sejumlah keunggulan,
seperti skala ekonomis, lingkup ekonomis, international recognition, jaringan
distribusi global, dan kekuatan finansial perusahaan pemiliknya.Factor inilah
yang membuat merek-merek global mampu menerobos banyak pasar di berbagai
penjuru dunia.
Oleh sebab itu, merek
local (local brands) perlu diklasifikasikan secara lebih sistematis dan akurat. Salah satu tipologi lain yang
ditawarkan adalah klasifikasi berdasarkan dua dimensi utama: asal (origin)
dan kepemilikan (ownership). Empat kategori utama perspektif merek local
sebagai berikut:
1. Original local
brands.kategori ini mencakup merek-merek yang berasal dari Negara
setempat/local dan dimiliki oleh orang/perusahaan local. Contohnya antara lain
rokok Djarum Super, jamu Nyonya Meneer, Kopi Kapal Api, harian Kompas, harian
Kedaulatan Rakyat, dan seterusnya.
2. Quasi local brands. Ketegori
ini terdiri dari merek-merek yang berasal dari negara local,namun dimiliki oleh
orang/perusahaan asing. Kaegori ini terdiri atas dua bentuk (Tjiptono, 2003). Pertama,
original local brands yang dibeli oleh perusahaan multinasional, tetapi
nama merek lokalnya dipertahankan. Sebagai contoh, air mineral kemasan Ades
dibeli The Coca-Cola Company; dan the sariwangi dibeli PT Unilever Indonesia,
Tbk. Kedua, merek local yang dikembangkan dan dipasarkan secara khusus untuk
pasar domestic tertentu oleh perusahaan multinasional. Contohnya, PT Unilever Indonesia,
Tbk. Mengembangkan dan memasarkan Citra hand and body lotion di pasar Indonesia.
3. Acquired local
brands. Kategori ini meliputi merek-merek yang berasal dari
negara lain,namun dimiliki oleh orang/perusahaan local.
4. Foreign brands. Kategori
ini merupakan kebalikan dari original local brands. Foreign brands berasal
dari luar negeri dan dimiliki orang/perusahaan asing. Contohnya,
Levi’s,McDonald’s, Pepsi, Adidas, Marlboro, Coca-Cola, dan seterusnya.Secara
umum, setiap negara (termasuk negara berkembang) memiliki original local brands
yang kuat. Merek-merek semacam ini bukan saja mampu bertahan hidup dalam era
globalisasi dan pasar bebas, tetapi juga memainkan peranan signifikan di pasar
domestiknya masing-masing. Sebagai contoh, tujuh dari sepuluh merek terbaik
di china adalah merek-merek local, di antaranya china telecom, mudan
credit cards, industrial and commercial bank of china, sofu.com, dan
legend computers, yang menempati peringkat lebih tinggi dibandingkan
McDonald’s dan Coca-cola (Asiainfo Daily china news, 2001; Tomkins,
2001). India juga memiliki sejumlah merek local yang sukses,seperti VIP
Industries, UB Group, Thermax, Bajaj Auto, A.V. Birla Group, dan Arvind Mill
(Das, 1997), consumer ethnocentrism (balabanis, et al., 2001; good
& hudleston, 1995;Herche, 1994; netemeyer, et al., 1991; rawwas, et al.,
1996; samiee, 1994; sharma, et al.,1995; shimp & sharma, 1987), consumer
animosity (klein, et al., 1998), dan perceivedbrand globalness (steenkamp, et
al., 2003).
BAB III
PENUTUP
3.1
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian diatas kami dapat menyimpulkan bahwa konsumen
di negara yang berbeda cenderung berpikir, berbicara, dan produk penting sikap,
dan norma sosial juga bervariasi antar negara. Seberapa penting persepsi
terhadap kualitas, sikap terhadap produk buatan luar negeri, dan sejauh mana
konsumen cenderung mematuhi norma-norma sosial, berpengaruh besar terhadap
perbedaan proses pembelian yang di lakukan oleh konsumen diberbagai negara.
Dengan adanya makalah ini maka pembaca dapat mempelajari tentang persaingan
pasar multidomestik dengan pasar global, gambaran umum pasar global, segmentasi
global, global targeting, global
positioning, global barnding, persaingan local brands dengan global brands.
3.2
SARAN
Mengingat pentingnya mempelajari
tentang ilmu pemasaran maka perlu kiranya masalah ini diperhatikan dan dipahami
dengan sebaik-baiknya. Setelah mamahami arti yang sesungguhnya dari materi ini
maka sebaiknya kita sebagai warga masyarakat lebih peduli dengan hal tersebut
selain itu kita juga harus mengetahui semua hal yang menyangkut tentang pemasaran
yang sudah bersifat mendunia atau global
baik secara individu maupun kelompok agar mencapai kesejahteraan yang bersifat
umum bagi semua masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Chandra, Gregorius., Tjiptono, Fandy., & Chandra, Yanto. 2004. “Pemasaran
Global:Internasionalisasi dan Internetisasi”Yogyakarta penerbit:Andi
Komentar
Posting Komentar